JAKARTA - Penjual kurma, kolak, makanan dan minuman lain atau penjual pernak-pernik bernuansa islami, segera meramaikan nuansa Ramadan. Mereka bakal menjamur di pinggir-pinggir jalan. Saban Ramadan, pemandangan seperti ini pasti dijumpai. Mereka kerap disebut pengusaha musiman lantaran hanya dijumpai saat Ramadan.
Setiap tahun, jumlah pengusaha musiman saat Ramadan selalu meningkat. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut, pertumbuhannya bisa mencapai 20 persen per tahun. Fenomena ini wajar lantaran kebutuhan konsumsi masyarakat saat Ramadan meningkat.
"Memang cukup banyak pengusaha musiman datang dan selalu bertambah saat Ramadan, hampir 20 persen setiap Ramadan. Mereka (pengusaha musiman) datang kan untuk mendapatkan keuntungan juga di tengah masyarakat lebih banyak belanja saat puasa," ujar Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi saat dihubungi, Jakarta, Sabtu (28/6).
Diakuinya, momentum Ramadan sangat menjanjikan bagi usaha musiman. Tapi keuntungan tidak serta merta datang begitu saja. Pengusaha musiman tetap perlu strategi jitu dan lebih kreatif untuk hasil maksimal.
"Positif ini, hal ini tidak bisa dicegah, bahkan mereka (pengusaha musiman) melakukan berbagai macam penjualan-penjualan dengan strategis dengan memberikan diskon contohnya sehingga pendapatan mereka mengalami kenaikan," jelas dia,
Sofjan mengaku pengusaha musiman ini biasanya memasarkan produknya lebih ke sektor konsumtif. Karena ini yang dicari masyarakat Indonesia. "Omset mereka pastinya naik, mereka lebih suka jualan yang konsumtif seperti baju, makanan sehingga keuntungan juga banyak. Kalau tidak mereka juga tidak mau berjualan," ungkapnya.
Sementara untuk pengusaha musiman di sektor transportasi, baru mulai bermunculan jelang Lebaran atau saat mendekati musim mudik. "Pengusaha rental dan sewa-sewa mobil biasanya muncul sebelum mendekati lebaran," tutup dia.
Sumber : merdeka