JAKARTA - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menilai jalan tol di luar Jawa memiliki IRR sangat kecil sehingga tidak mungkin mewujudkannya tanpa campur tangan negara.
Menurut Anggota BPJT Koentjahjo Pamboedi, sepanjang ruas tol Trans Sumatera, internal rate of return (IRR) yang paling besar memang terdapat di empat yakni Medan-Binjai, Pekanbaru-Dumai, Palembang-Indralaya, dan Bakauheni-Tebanggi Besar.
Namun secara bisnis, keempat ruas ini juga masih belum memiliki IRR yang ideal.
“Palembang-Indralaya itu IRRnya 10%,” ujarnya.
Menurutnya, IRR yang cukup untuk sebuah jalan tol berkisar 16%, tetapi untuk operator yang berpengalaman seperti Jasa Marga dengan IRR 12%, dapat melakukan pembangunan jalan tol karena memiliki sumber dana pinjaman yang murah.
“Agak susah bagi perusahaan baru,” sambungnya.
Sementara untuk pembebasan lahan ruas yang sudah siap dibangun baru Palembang-indralaya yang pembebasannya diatas 80% dan Medan-Binjai.
Sedangkan untuk Bakauheni-Tebanggi Besar serta Pekanbaru-Dumai sama sekali belum dilakukan pembebasan tanah.
Untuk ruas Pekanbaru untuk tahap pertama diarahkan Pekanbaru-Kandis.
Karena itu, katanya, perusahaan yang ditugaskan membangun Trans Sumatra harus menunjukkan kemampuan komitmen keuangan (Financial Close).
Kepastian kemampuan secara keuangan ini didapatkan paling lama satu tahun semenjak Perjanjian Pengelolaan Jalan Tol (PPJT) ditandatangani dan dapat diperpanjang 1 tahun dengan seizin menteri.
Sumber : bisnis