JAKARTA - Pemerintah menjamin ketidakpastian menjelang pemilihan presiden tidak perlu dikhawatirkan, setidaknya hingga September 2014, karena sejumlah pondasi kebijakan moneter dan fiskal telah disiapkan untuk mendukung pemimpin baru.
Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengaku beberapa pemegang obligasi negara (bond holders) pernah menyatakan kekhawatiran mereka terkait dampak memanasnya situasi politik nasional menjelang pemilihan presiden terhadap perekonomian nasional.
“Sekarang persaingan dari kandidat presiden cukup seru. Bond holders yang besar bertanya, ini situasinya akan aman tidak?” katanya dalam acara Bisnis Indonesia (BI) Awards 2014, Selasa (24/6) malam.
BI Award, yang tahun ini bertema Survive to Grow, merupakan ajang pemberian penghargaan tahunan kepada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek Indonesia dan perusahaan pendukung lain di pasar finansial
Chatib meyakini situasi nasional akan aman walaupun hingga September masih diliputi ketidakpastian karena adanya kemungkinan terjadi gugatan ke Komisi Pemilihan Umum dari salah satu calon presiden yang tidak puas dengan hasil pemungutan suara.
Menurutnya, kondisi ini cukup wajar terjadi dan mulai berdampak terhadap perekonomian Indonesia seperti rupiah yang melemah. Kendati demikian, lanjutnya, situasi pada tahun ini lebih terkendali dibandingkan dengan situasi pada tahun lalu.
“Tahun lalu tingkat ketidakpastiannya lebih tinggi karena kebijakan quantitative easing sulit diperkirakan. Sekarang arah kebijakan the Fed sudah lebih jelas,” katanya.
Dia juga mengingatkan terjadi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II/2014 karena pertumbuhan kredit pada periode tersebut memicu sejumlah perusahaan untuk mulai merealisasikan rencana ekspansi mereka.
Melebarnya defisit tersebut, lanjutnya, disebabkan ekspansi yang dilakukan perusahaan akan menggenjot kebutuhan impor bahan baku. Meskipun demikian, Chatib memperkirakan defisit hingga akhir tahun ini tidak seburuk tahun lalu di bawah 3%.
Pada bulan lalu, katanya, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit. Namun, berdasar perhitungan Kemenkeu pada bulan ini neraca perdagangan akan kembali surplus.
Dia menjelaskan kebijakan ketat di bidang fiskal dan moneter masih akan diterapkan hingga akhir tahun ini untuk membangun pondasi kuat bagi pemerintahan baru nantinya. Pengendoran kebijakan, lanjutnya, kemungkinan akan dilakukan oleh pemimpin baru terpilih. | bisnis.com