JAKARTA - Ketua Persatuan Bank Milik Daerah (Perbamida) Soeroso bersuara cukup lantang ketika menyinggung soal peran bank nasional dan bank umum untuk memajukan usaha kecil di daerah.
Dia menyatakan bank-bank umum tidak pernah peduli pada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) ataupun koperasi. Bank-bank umum hanya peduli pada UKM yang sudah berkembang. Di sisi lain, BPR dinilai tidak banyak membantu.
Padahal, sesungguhnya ada jenis UMKM yang masuk kategori starter. Mereka sama sekali tidak tersentuh akses bank, meminjam dana dari bank sekadar menyambung hidup. Berangkat dari kondisi tersebut, Soeroso melihat perlunya dibentuk bank-bank yang memberi bunga kredit kecil, jika bisa di bawah 7 persen.
"BPR di daerah malah banyak yang citranya rentenir karena bunga tinggi. Sementara bank umum mana mau membiayai UMKM starter yang visible tapi enggak bankable. Jadi harus ada yang masuk memberi bunga murah buat mereka. UMKM itu nanti modar kalau dikasih bunga tinggi," ujarnya selepas diskusi Peluang dan Tantangan Bank Khusus di Le Meridien, Jakarta, Kamis (25/4).
Potensi UMKM besar sekali, bahkan terbukti menyumbang 57,8 dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun lalu. Namun, ternyata dari catatan Perbamida, bank baru membiayai 30 persen pengusaha kecil, sisanya dijamah oleh rentenir.
"UMKM baru 30 persen, 70 persen moneylender, potensinya besar sekali sebenarnya," cetusnya.
Soeroso mengaku salah satu contoh sukses adalah Bank UMKM Jawa Timur yang dikelolanya. Asetnya kini menjadi Rp 1,7 triliun. Padahal hanya fokus menggarap pelaku usaha kecil. Dia memberi kredit 6 persen dan mencari dana untuk cost of fund tidak hanya dana pihak ketiga (DPK) atau deposito, tapi juga pinjaman donor asing.
"Cost of fund bisa dicari dari mana saja, saya katakan kepada anggota Perbamida 286 bank perkreditan rakyat, jangan cari dana murah saja. Margin hanya 2 persen, tapi kalau NPL 0, maka sisanya kontribusi pada profit," ungkap Soeroso.
Perbamida mengusulkan pada Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia segera mengeluarkan kebijakan yang mendorong tumbuhnya bank khusus. Yaitu bank yang fokus pada bidang pembiayaan tertentu, seperti bank pertanian, bank UMKM jasa, bank nelayan, dan lain-lain.
Selain itu, Soeroso mengharapkan bank umum untuk masuk ke nasabah besar dan menengah saja. Sementara UMKM diserahkan sepenuhnya pada Perbamida.
"Bank umum tidak perlu masuk sektor mikro, hanya perlu sinergitas biar kami yang urus," tegasnya.
Sumber : Merdeka