BISNISACEH - Banyak kalangan sepakat kalau pariwisata dan ekonomi kreatif aman dari imbas krisis Eropa. Bahkan, dua sektor itu mulai digadang-gadang bisa menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah pelemahan pasar global.
Pariwisata selama ini memang sudah menunjukkan kontribusinya terhadap perekonomian. Indikasinya mudah saja, bisa dilihat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunnya dan sumbangan terhadap devisa.
Badan Pusat Statistik mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara periode Januari--Agustus 2012 sebanyak 5,21 juta orang atau tumbuh 4,99% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 4,96 juta orang.
Perkembangan pariwisata & ekonomi kreatif:
PDB:
|
-Pariwisata: 4% -Ekonomi kreatif: 7,3% Devisa dan ekspor -Prediksi devisa pariwisata 2012: US$9,5 miliar -Prediksi nilai ekspor industri kreatif 2012: US$13 miliar Kunjungan wisata: -Target 2012: 8 juta wisman -Realisasi: 5,21 juta wisman (Agustus) -Prediksi wisatawan domestik: -Target wisatawan domestik: 245 juta perjalanan -Prediksi pengeluaran wisdom: US$18 miliar |
PDB Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya:
|
Tahun |
Nilai (Rptriliun) |
|
2002 |
44,15 |
|
2003 |
47,57 |
|
2004 |
56,62 |
|
2005 |
65,81 |
|
2006 |
79,23 |
|
2007 |
93,56 |
|
2008 |
99,57 |
|
2009 |
127,68 |
|
2010 |
158,85 |
Sumber: diolah, 2012
Dari sisi sumbangan devisa, sektor pariwisata berkontribusi cukup signifikan, yakni masuk dalam jajaran lima teratas.
Pemerintah memproyeksikan devisa sektor pariwisata hingga akhir tahun akan mencapai US$9,5 miliar.
Adapun untuk ekonomi kreatif, diyakini pertumbuhannya tetap positif baik untuk pasar domestik ataupun ekspor.
Ekspor industri kreatif pada 2010 diperkirakan mencapai US$10 miliar dan pada akhir tahun ini diprediksikan bisa mencapai US$13 miliar.
Kalangan dunia usaha merespons positif perkembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sejauh ini.
Bahkan, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani pernah mengatakan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif telah terbukti mampu tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Artinya, pariwisata dan ekonomi kreatif bisa menjadi solusi mengantisipasi krisis yang telah mengakibatkan penurunan perdagangan internasional.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan dua sektor yang di bidanginya relatif aman dari goncangan krisis Eropa.
Pariwisata misalnya tetap masih diminati, apalagi Indonesia punya banyak destinasi unggulan.
Kementerian Parekraf mencatat sektor pariwisata masih bisa tumbuh sekitar 5%--6% per tahunnya. "Kami lihat kondisi eksternal tidak terlalu mempengaruhi pariwisata. Kondisinya berbeda dengan ekspor barang yang cukup terpengaruh," katanya.
Pariwisata juga ternyata menjadi salah satu sektor penyerap tenaga kerja. Diperkirakan setiap satu dari 12 pekerjaan yang tersedia merupakan sektor pariwisata.
Pemerintah mengaku sadar kalau sektor itu memang cukup seksi, sehingga perlu strategi pengembangannya.
Beberapa kendala yang menggelayuti pariwisata selama ini antara lain infrastruktur, konektivitas, dan promosi. Terkait promosi, Kementerian Parekraf mengaku akan fokus promosi destinasi di luar Bali.
Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif pun diyakini punya prospek cerah, asal produknya punya nilai tambah.
Beberapa produk industri kreatif yang dinilai punya prospek bagus antara lain film, animasi, kuliner, dan fesyen untuk kalangan kelas atas.
Untungnya, market domestik Indonesia cukup solid, sehingga produk ekonomi kreatif tetap punya pasar selain untuk tujuan ekspor.
Kenterian Parekraf mencatat kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) saat ini sebesar 7,3%. Pemerintah memprediksikan PDB sektor itu akan menjadi 8% pada 2015.
"Apabila pertumbuhan pariwisata dan ekonomi kreatif bisa lebih tinggi dari rata-rata industri lainnya, maka kontribusi terhadap PDB otomatis akan terus naik," katanya.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Didien Junaedy mengatakan kunjungan wisatawan tetap tumbuh walaupun gejolak ekonomi Eropa masih terjadi.
Industri pariwisata Indonesia diuntungkan karena tidak hanya bertumpu pada wisatawan dengan bujet besar. Masih banyak wisatawan dengan biaya rendah yang melakukan perjalanan.
Dia juga sepakat pariwisata bisa menjadi alternatif sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi ke depannya. Oleh karenanya, pemerintah perlu memacu kualitas dan kuantitas wisatawan baik mancanegara maupun domestik agar industri ini tumbuh lebih cepat.
Secara kuantitas, wisatawan bisa tercermin dari berapa banyak turis mengunjungi Indonesia, sedangkan indikasi kualitas antara lain berapa nilai belanja dan lama tinggal pelancong.
Indonesia yang memiliki banyak destinasi, sehingga bisa memacu wisatawan secara kualitas maupun kuantitas. GIPI optimistis target 8 juta wisatawan mancanegara tahun ini akan terealisasi.
Sutradara film Cita-Citaku Setinggi Tanah Eugene Panji mengaku dirinya yakin film Indonesia bisa menembus pasar internasional. Tak hanya menjadi 'macan festival' tetapi juga masuk ke sisi komersil.
"Kalau festival dari belasan tahun lalu juga sudah, kalau komersil baru film The Raid. Itu juga menurut saya bukan murni film Indonesia," katanya.
Pelaku industri perfilman Tanah Air sudah siap menjadi garda terdepan agar bisa bersaing di kancah internasional. Hanya saja, dia berharap peran pemerintah untuk mendukung perfilman lokal perlu diperbesar.
Dia mencontohkan Lembaga Sensor Film (LSF) harus lebih difungsikan lagi agar film-film yang tayang bukanlah film-film murahan. Namun, film-film standar internasional yang baguslah yang diseleksi oleh LSF.
Agar semua itu bisa tercapai, Eugene menyarankan agar pihak-pihak terkait bersinergi. Misalnya antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Potensi dari ekspor film, kata Eugene, sangat tinggi. Dia bercerita, ketika menonton film di London Inggris beberapa waktu lalu harus membeli tiket seharga 20 pounsterling atau setara Rp400.000. Angka itu sebuah konsumsi yang mahal untuk bioskop kelas bawah di London.
"Bayangkan berapa harga beli film itu? Efeknya akan besar kalau film bisa go international. Nggak cuma ke film tapi ke ekonomi lainnya," tegasnya.
Harus diakui, prospek pariwisata dan ekonomi kreatif begitu besar. Hanya saja, masih banyak pekerjaan rumah yang menanti untuk segera diselesaikan.
Sumber : Bisnis