MEULABOH - Petambak ikan air tawar di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, kesulitan untuk memasarkan hasil produksinya, sehingga panen perdana mereka bakal terancam gagal.
Aman Joni, salah seorang petambak di Meulaboh, Senin mengatakan, pada awal September 2012, seharusnya sebanyak 26 tambak sudah panen, namun karena tidak ada penampung, sehingga tidak jadi dipanen.
"Paling yang datang membeli selama ini pedagang ikan di pasar Meulaboh. Mereka cendrung permintaannya dalam jumlah kecil antara lima sampai 15 kilogram, karena permintaan jenis ikan air tawar masih kurang," ujarnya.
Dijelaskan, pembenihan yang dilakukan pada awal Januari 2012 seharusnya sudah memasuki masa panen dalam kurun waktu delapan bulan, yakni pada Agustus lalu, namun petani setempat memperkirakan merugi sebab harus menyediakan pangan ikan lebih dari masa panen.
Lebih lanjut Aman Joni menjelaskan, jenis ikan air tawar, seperti ikan emas, nila dan bawal dengan harga Rp35.000/Kg dalam bentuk enceran namun bila ada pengusaha menampung petani setempat rela menjual seharga Rp25.000/Kg.
Katanya, target penjualan ikan tersedia dengan berat badan rata-rata 400 gram sampai 600 gram, sementara saat ini diperkirakan berat badan ketiga jenis ikan di kolam mereka sudah hampir mencapai satu kilogram.
"Kami di sini sudah terkendala pangan ikan air tawar sebab semakin bertambah berat badan, maka makanannya pun sudah harus kami sedikan lebih banyak," imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakan, sebenarnya di kawasan mereka terdapat 52 tambak ikan air tawar dengan target produksi melebihi 13,5 ton setiap panen, setiap tambak diisi sebanyak 1.000 ekor benih dengan hasil produksi diperkirakan 500 kilogram.
Katanya, meskipun di kawasan budidaya ikan air tawar Aceh Barat ini disediakan satu unit mesin pengolah pangan ikan, namun tidak seorangpun dapat mengelolanya, sehingga para petani masih ketergantungan memperoleh pangan bantuan dari pemerintah daerah.
Sebab itu kata Aman Joni, ikan air tawar yang diperkirakan sudah berusia melewati batas panen ini dengan berat badan ada yang sudah 4,5 kilogram/ekor akan dijadikan induk pembibitan, namun mereka khawatir bila bibit bertambah maka harus menyediakan kolam tambahan.
"Kami juga akan berupaya membawa sendiri ikan ini ke pasar Medan, Sumatera Utara, mungkin sampai di sana akan ada penampung, sebab kami khawatir ikan akan mati bila tidak dipanen saat ini," pungkasnya.
Sumber : Antara-Aceh