Beranda»Berita Umum»Miliarder Indonesia yang raup untung dari minyak sawit

Miliarder Indonesia yang raup untung dari minyak sawit

BISNIS ACEH
Selasa, 06 November 2025 14:06 WIB

[FOTO : merdeka.com]">FOTO : merdeka.comLim Hariyanto

JAKARTA - Keuntungan dari penjualan saham PT Bumitama Agri, perusahaan produsen minyak sawit serta pertumbuhan sektor pertambangan di Asia Tenggara, menjadikan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono menjadi seorang miliarder.

Pemilik Harita Grup yang juga konglomerat berusia 84 tahun ini, memiliki basis bisnis di Jakarta. Berdasar daftar orang kaya versi Bloomberg, harta kekayaan Lim berkisar USD 1,8 miliar.

Dia dan putranya, Lim Gunawan Hariyanto menguasai 53 persen saham Bumitama Agri, yang mana keuntungan perusahaan ini sekitar USD 50 juta atau telah melebihi keuntungan perusahaan lain yang melakukan penawaran saham perdana di pasar modal Singapura tahun ini. Dia juga berencana menjual saham bisnis pertambangan nikel di pasar modal berbagai negara.

"Didorong permintaan dari Asia khususnya China dan India, kekuatan sumber daya alam menjadikan kekayaannya naik signifikan dan membuat bisnis keluarga bersumber sumber daya alam naik tinggi. Keuntungan tinggi karena komoditi yang saat ini banyak diburu," ungkap Noor Quek, kepala pengembang bisnis Citigroup Inc di Asia Tenggara yang sekarang menjalankan bisnis di Singapura, seperti dikutip Bloomberg, Senin (5/11).

Pria terkaya di Indonesia adalah Tjipta Widjaja Eka yang memiliki aset saham keluarganya sebesar 50 persen di PT Golden Agri Resources, yang menurut Bloomberg merupakan perusahaan kelapa sawit terbesar kedua di dunia. Pada laporan McKinsey, Indonesia diprediksi akan melampaui Jerman dan Inggris pada 2030, dengan pendapatan sebesar USD 1,8 triliun yang disumbang oleh sektor agribisnis, konsumsi dan perusahaan energi.

Ayah Lim, Lim Tju Raja merupakan seorang imigran dari Provinsi Fujian di China yang memulai bisnis keluarga dengan membuka toko kelontong di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Timur pada 1951.

Saat remaja, Lim yang memiliki tujuh orang anak, memperluas bisnis harita Grup dengan perdagangan kayu dan merambah ke sektor pengolahan kayu lapis pada 1983. PT Tirta Mahakam Resources tercatat sebagai produsen kayu lapis. Keluarga Lim tercatat memiliki sekitar 34 persen saham di PT Tirta Mahakam.

Lim memperkuat usaha pertambangan dengan menggandeng perusahaan asing, termasuk untuk memproduksi emas Kelian di Kalimantan Timur dengan PT Rio Tinto. Harita memiliki saham 10 persen di pertambangan emas PT Kelian Equatorial. Sementara Rio Tinto memiliki 90 persen saham. Perusahaan tambang yang mulai beroperasi pada 1992, akhirnya ditutup pada 2005 lantaran penurunan produksi tambang.

Harita Grup juga menggandeng produsen batubara asal Thailand, PT Lanna Resources untuk mengembangkan batubara di Indonesia. Lim memegang 35 persen saham proyek tersebut.

Tahun ini, perusahaan tersebut berencana meningkatkan pendapatan sebesar USD 250 juta melalui penawaran saham perdana untuk sektor usaha pertambangan di bursa saham Singapura. Data yang dihimpun Bloomberg, dana yang dihimpun bisa mencapai USD 800 juta.

Dia menunda rencana IPO lantaran pemerintah mempersiapkan rencana larangan ekspor bahan mentah pada 2014 dan meminta perusahaan tambang membangun pabrik pengolahan di dalam negeri. Pertambangan menyumbang 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Pemerintah melarang ekspor 32 jenis logam mentah tanpa proses pengolahan. Bagi yang ingin melakukan ekspor bahan mentah, maka dikenakan bea keluar sebesar 20 persen. Melalui program hilirisasi, pemerintah menginginkan ada nilai tambah dari komoditi yang di ekspor.

Lim memulai bisnis kelapa sawit pada 1996 ketika Harita Grup membeli lahan seluas 17.500 hektare di Kalimantan Tengah dan mulai menanamkan sawit dua tahun kemudian.Produsen minyak sawit asal malaysia, IOI Corp yang didirikan oleh miliarder Malaysia bernama Lee Shin Cheng membeli 33 persen saham bisnis minyak sawit keluarga Lim pada 2007. IOI yang memiliki 31 persen Bumitama setelah IPO, tercatat sebagai pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Lim di perusahaan tersebut.

Putra Lim ikut ambil bagian dalam mengembangkan bisnis keluarga. Gunawan Hariyanto, 52, adalah direktur eksekutif Bumitama dan Gunaryo Hariyanto, 47, adalah wakilnya. Bumitama telah memperoleh 35 persen sejak saham perusahaan mulai diperdagangkan pada April, melebihi 3,2 persen peningkatan di pasar modal Singapura. IPO perusahaan ini juga menarik minat investor, termasuk produsen kelapa sawit terbesar di dunia yakni Wilmar Internasional.

Bumitama yang memiliki perkebunan sawitr terbesar di Kalimantan, berharap dapat meningkatkan produksinya. Pada 2015, Bumitama menargetkan melipatgandakan produksi minyak sawit dari produksi tahun 2011 yang hanya 345.111 metrik ton. Perusahaan memiliki total lahan produksi 192.00o hektare. Perusahaan juga ingin meningkatkan luas lahan perkebunan hingga 13.00 hektare per tahun selama empat tahun ke depan.

 

Sumber : Merdeka



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Berita Umum

Close