JAKARTA - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang hampir mencapai Rp 11.000 per USD, berimbas pada barang-barang impor. Salah satunya aksesoris dan spare part kendaraan bermotor.
Meski terkena imbas pelemahan Rupiah, para pelaku usaha di sektor otomotif belum berencana menaikkan harga kendaraan bermotor. Pelemahan Rupiah dinilai belum berimbas secara signifikan terhadap harga spare part kendaraan.
"Belum ada rencana kenaikan harga," ujar Komisaris Utama PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Soebronto Laras yang ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Kamis (22/8).
Soebronto mengakui bahan baku pembuatan mobil banyak diimpor sehingga cukup memberatkan karena dolar makin kuat. Namun pelaku usaha yakin kebijakan pemerintah bisa membuat nilai tukar Rupiah kembali bergairah.
"Mudah-mudahan proses itu udah beres lah, karena bahan-bahan baku segala macam kan diimpor," tegas dia.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Toyota astra Motor Johnny Darmawan mengatakan kenaikan harga mobil bukan hanya terjadi karena melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Tapi juga disebabkan adanya kenaikan tingkat suku bunga bank.
"Itu akan kita lihat karena kan banyak faktor, ada interest rate, ada exchange rate dan segala macam, mudah-mudahan tetap stabil," kata dia. | merdeka.com